“Strategi dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara”

 

“Strategi dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara”

(Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik)

Ki Hadjar Dewantara adalah sosok pendidik yang sangat luar biasa. Beliau memberikan semboyan "ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" untuk pendidikan nasional yang kita pegang teguh sampai sekarang. Kebijakan pendidikan saat ini mengacuh pada pendidikan yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara yang kita kenal dengan merdeka belajr. Pemikiran dasar Ki Hadjar Dewantara yaitu menggali potensi yang setiap insan manusia dengan menjunjung tinggi adab sesuai dengan tantangan pada setiap zaman.

Strategi dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah Pendidikan yang Berpihak pada Peserta Didik. Sebagai salah satu contoh merancang pelaksanaan pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk kegiatan kelompok agar peserta didik mampu berkolaborasi dengan peserta didik yang lain untuk memahami secara kritis materi pembelajaran yang disajikan. Dengan cara ini peserta didik mampu menyampaikan ide dan gagasannya secara kreatif. Sehingga pada akhir pelaksanaan pembelajaran peserta didik mengomunikasikan atau memperentasikan hasil kinerjanya dalam berkolaborasi.

Selain dari itu, saya mengambil contoh dari SMA Negeri 3 Parepare yang merupakan sekolah tempat saya melakukan PPL.  Sekolah ini, sudah terintegrasi dengan berbagai macam dukungan teknologi. Sehingga peserta didik melek akan teknologi dan bisa menjawab tantangan zaman yang semakin sengit perkembangannya. Setiap pendidik berusaha untuk menerpakan teknologi dalam proses pembelajaran, seperti penayangan video pembejaran, penggunaan media pembelajaran berupa Powor Poin, dan bahkan penggunaan berbagai aplikasi untuk melakukan asesmen.

Dan tak kalah pentinganya dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah penerapakan  pembelajaran dalam mencapai karakter peserta didik sebagai profil pelajar pancasila yang dilakukan dengan pembiasan-pembisaan positif secara terus-menerus. Sebagai contoh penerapan dalam pembelajaran di kelas untuk mencapai karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan YME yaitu berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, dan membiasakan membaca Al-Qur’an sebelum proses pembelajaran. Karakter berakhlak mulia dapat tercapai dengan peserta didik yang sopan dan menghargai gurunya seperti meminta ijin ketika akan keluar kelas ke toilet. Karakter berkebhinekaan global tercapai ketika peserta didik saling menghargai, tidak mengejek terlebih lagi membully temannya. Karakter gotong royong di kelas dapat terlihat dari kerja sama mereka dalam membuat dan menyelesaikan projek bersama kelompok. Karakter Mandiri dapat terlihat dari peserta didik yang selalu tahu situasi yang dihadapinya dan bertanggungjawab atas dirinya tanpa disuruh ataupun diperintahkan. Karakter bernalar kritis terlihat dalam siswa yang dapat memberikan masukan maupun kritik dari kelompok lain yang sedang menyajikan hasil presentasi. Dan terakhir karakter kreatif adalah hasil dari karya siswa yang siap disajikan atau dipresentasikan dengan gagasan dan ide yang mereka bangun seperti yang dijelaskan sebelumnya mengenai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Jadi dengan semua yang saya paparkan, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bahagia dan untuk tidak dalam pembelajaran yang menyenangkan. Dengan berpegang teguh pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, kita bisa menerapakan berbagai metode dan memvariasi pembelajaran yang sesuai dengan asas pembelajaran yang aman dan menyenangakan guna menciptakan Profil Pelajar Pancasila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Identitas Manusia Indonesia dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Desain Invensi dan Inovasi Pembelajaran