Desain Invensi dan Inovasi Pembelajaran

 Pendekatan Culturally Responsive Experiential Learning (CREL)

Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan. Mendapatkan pengetahuan bisa diperoleh dengan experiential learning yaitu belajar melalui pengalaman. Dengan experiential learning, peserta didik dapat mengalami proses dan mendapatkan pengetahuan. Experiential Learning adalah proses yang melibatkan konstruksi pengetahuan dimana guru sebagai agen harus kreatif dan juga harus bisa mendorong kreativitas peserta didik. Proses pembelajaran dengan pendekatan Experiental Learning ini melibatkan siklus dasar yaitu mengalami (experiencing), refleksi diri (reflecting), berpikir (thinking), melakukan (acting). Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mempengaruhi peserta didik dengan tiga cara, yaitu mengubah struktur kognitif peserta didik, mengubah sikap peserta didik serta memperluas keterampilan-keterampilan peserta didik yang sudah ada berdasarkan pengalamannya.

Gambar 1. Proses Experiential Learning

Experiential Learning melibatkan dua cara mendapatkan pengetahuan yaitu Concrete experience (pengalaman konkret) dan Abstract Conceptualization (Konseptualisasi abstrak). SEL juga melibatkan dua cara transformasi pengetahuan yaitu Reflective observation (observasi reflektif) dan active experimentation (Eksperimentasi aktif), dimana individu melakukan observasi dan bisa menjelaskan peristiwa yang terjadi disertai pemahaman, dan kemudian aktif mempraktikkan.

Culturally Responsive Teaching merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara pendidikan dan dimensi sosial budaya peserta didik. Adapun karakteristik pendekatan Culturally Responsive Teaching yaitu peserta didik melakukan refleksi terhadap identitas, terlibat dalam pemahaman budaya, melakukan diskusi untuk mengetahui perspektif yang berbeda, serta terlibat dalam refleksi nilai-nilai dan pemahaman mereka dengan menyajikannya dalam sebuah tugas.

Gambar 2. Alur Desain Invensi/Inovasi

Alur diatas merupakan alur desain invensi/inovasi pembelajaran dengan harapan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari dan tetap tanggap terhadap budaya lokal peserta didik masing-masing. Desain invesi/inovasi ini merupakan desain pembelajaran yang dikembangkan/dirancang berbasis teknologi yang merupakan tuntutan zaman pada era pendidikan saat ini. Adapun penjelasan desain invesi/inovasi yang dirancang adalah sebagai berikut:

·        Melalui pendekatan Experiential Learning dan pendekatan Culturally Responsive Teaching muncul inovasi untuk menciptakan pembelajaran yang berbasis pengalaman dan kultur budaya, sehingga dengan ini muncul sebuah inovasi pendekatan yang disebut dengan Pendekatan Culturally Responsive Experietial Learning (CREL).

Pendekatan Culturally Responsive Experietial Learning (CREL) merupakan gabungan antara pendekatan Experiential Learning dan pendekatan Culturally Responsive Teaching. Pendekatan CREL dirancang sama dengan siklus pada Experiental Learning akan tetapi menggunakan konten terkait kultur budaya lokal. Pendekatan CREL memungkinkan para peserta didik untuk belajar dengan memenuhi seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran, yakni kognitif, psikomotor, afektif, dan emosi. Karena dengan mengalami (experiencing), refleksi diri (reflecting), berpikir (thinking), dan melakukan (acting) muncul sebuah pengetahuan, keretampilan peserta didik yang diperoleh dari lingkungannya, dan sikap serta emosi positif peserta didik berdasarkan pada pengalaman kehidupan sehari-hari yang merasa bahwa pembelajaran ini dapat bermanfaat dilingkungan luar sekolah begitun sebaliknya. Terpenuhinya seluruh aspek penting dalam proses pembelajaran ini kemudian dapat membuat pemahaman yang lebih mendalam bagi para peserta didik yang melakukannya.

 

·        Melalui pendekatan CREL juga muncul inovasi untuk pengembangan perangkat pembelajaran dan media pembelajaran virtual yang berjudul Cultural Shopping. Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan adalah mata pelajaran matematika materi aritmatika sosial tepatnya pada materi diskon dan pajak yang dilengkapi dengan media pembelajaran virtual Cultural Shopping. Media pembelajaran Cultural Shopping ini dirancang melalui Microsoft Power Point (PPT) yang kemudian diekstrak dalam bentuk aplikasi yang dapat digunakan di laptop maupun android. Media ini di desain dalam bentuk aplikasi agar peserta didik juga dapat menggunakannya, tidak hanya dalam proses pembelajaran tetapi juga diluar jam pelajaran. Desain tampilan Cultural Shopping sebagai berikut:

 

Gambar 4. Desain Media Pembelajaran Cultural Shopping

Kelebihan media Cultural Shopping adalah pembelajaran yang disajikan memuat budaya lokal peserta didik untuk meningkatkan sikap khususnya berkebinekaan global dan menambah pengetahuan peserta didik terkait budaya setempat serta pengetahuan materi terkait materi pelajaran yang disajikan. Kekurangan media Cultural Shopping adalah media pembelajaran ini hanya dapat digunakan pada materi aritmatika sosial terkait diskon dan pajak, karena media pembelajaran ini dirancang khusus untuk materi tersebut.

 

Contoh Prangkat Pembelajaran Perangkat Pembelajaran Pendekatan CREL (KLIK DISINI)

Media Pembelajaran Cultural Shopping (KLIK DISINI)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Identitas Manusia Indonesia dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara